Rabu, 23 Desember 2015

Peluang Usaha dari Bioskop Tiga Dimensi Berikut Analisanya, Mantap!

 Dengan modal usaha kurang dari Rp 100  juta, usaha membuat mini bioskop tiga dimensi (3D) mampu balik modal kurang dari setahun. Maklum, usaha ini menjanjikan keuntungan hingga 75%. Kuncinya adalah strategi yang tepat.



Makin hari, makin banyak orang menyukai  film berteknologi tiga dimensi (3D). Maklumlah, kualitas gambar yang makin realistis tentu membuat lebih nyaman menikmati tontonan mutakhir ini. Bahkan, bukan hanya orang dewasa, sensasi tayangan berefek 3D juga digandrungi anak anak yang hobi menyaksikan film animasi.

Nah, animo masyarakat terhadap teknologi ini sebenarnya sudah terlihat dari larisnya penjualan televisi layar lebar yang dilengkapi fitur 3D. Hanya saja, harga perangkat televisi dengan fitur ini masih terbilang mahal, sehingga tidak dapat dijangkau semua kalangan.

Bioskop yang menayangkan film 3D juga masih terbatas di kota-kota besar dengan lokasi yang tertentu, seperti bioskop dan arena rekreasi. Kondisi ini memunculkan peluang bisnis. Kebutuhan yang besar tapi ketersediaan terbatas membuat beberapa pengusaha melirik kota kecil sebagai sasaran.

Lihat saja, belakangan ini muncul bioskop mini atau studio mini 3D di berbagai kota. Kebanyakan pemain bisnis ini memang menyasar pasar yang jauh dari kota besar. Sebab, selain persaingan relatif lebih longgar, biasanya kota kecil tidak dimasuki jaringan bioskop raksasa. Tentu saja, harga tiket studio mini ini lebih ramah.

Di daerah kelas kecamatan dan kabupaten, usaha ini cocok potensial dikembangkan. Selain memberikan hiburan keluarga dan anak, bioskop mini 3D juga bertujuan memperkenalkan masyarakat dengan hiburan keluarga berteknologi 3D dengan harga lebih terjangkau.

Pemilik bioskop 3D di Jombang, Jawa Timur, Wahyu Wardana, bilang, kebutuhan masyarakat kota berkembang akan hiburan cukup tinggi. Tidak heran, peminat studio mini 3D miliknya cukup banyak. Kebanyakan pelanggannya adalah murid sekolah dan keluarga.

Wahyu mengaku sangat menikmati bisnis studio 3D ini. Alasannya, selain usahanya mudah dijalankan dan tidak memerlukan keahlian khusus, laba yang diperolehnya juga cukup tebal. Keuntungan bersih yang diperoleh bahkan bisa mencapai 75% dari omzet. Asal tahu saja, ia meraup omzet
Rp 48 juta per bulan. “Bisnis ini juga lebih aman karena tidak banyak risiko,” tuturnya.

Sukses berbisnis studio mini 3D juga dirasakan Muhammad Miftahun Huda, pemilik Movie 3D di Semarang, Jawa Tengah. Dalam sebulan, remaja 19 tahun ini mampu meraup untung Rp 15 juta–Rp 20 juta. Dengan investasi senilai Rp 70 juta hingga Rp 80 juta, modal awal pemilik usaha dapat kembali tidak sampai satu tahun.

Meski masih terbilang baru dalam menjalankan bisnis ini, sudah banyak tawaran kerjasama permodalan yang diterima oleh Miftahun. “Hampir tiap hari, ada proposal kerjasama yang saya terima. Ini membuktikan bisnis studio mini memang menarik,” paparnya.

Segmen Anak Sekolah

Jika Anda tertarik menjalankan bisnis ini, hal pertama yang harus ditentukan adalah segmen pasar. Berdasarkan pengalaman para pelaku usaha, pasar anak usia sekolah sangat potensial untuk digarap (lihat boks: Menawarkan Film 3D
Edukasi). Dengan membidik segmen ini, pelaku usaha bisa memperoleh pelanggan
berlipat-lipat.

Meski tidak sebesar pasar anak sekolahan, penonton dari segmen keluarga juga bisa digarap. Untuk membidik segmen ini, penyedia tayangan harus pintar memilih lokasi. Tempat-tempat keramaian seperti objek wisata atau alun-alun kota merupakan contoh tempat yang cukup strategis.

Biasanya, banyak orangtua yang membawa anaknya yang belum masuk sekolah untuk menyaksikan tayangan 3D. Strategi seperti ini cocok diterapkan di daerah yang jauh dari kota besar. Sebab, di kota berkembang, lokasi keramaiannya biasanya berhimpun di satu atau dua titik saja. Jika ingin meniru strategi ini, penyedia tontonan harus menyiapkan tenda sebagai studio.

Selain menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah, studio Miftahun di kawasan Jalan Sirojudin, Semarang, menyediakan studio untuk tayangan tak berjadwal. Penonton lebih bebas untuk menentukan jam dan film yang diputar. Untuk setiap satu film, ia mematok tarif Rp 50.000 per empat orang. Jika melebihi kuota, penonton tambahan tinggal membayar Rp 10.000 per orang.

Miftahun menerapkan strategi ini lantaran harus bersaing dengan jaringan bioskop raksasa seperti 21 Cineplex. Meski begitu, pendapatan yang diraupnya tergolong lumayan. Dalam satu hari, studionya dapat memutar lima film dengan rata-rata lima hingga 10 kepala.

Bioskop 3D memang memiliki segmen penonton atau pasar yang terbatas. Untuk itu sebelum melakukan investasi, sebaiknya Anda melakukan survei area usaha. Tujuannya untuk menentukan kecocokan lokasi dengan segmen yang dituju. Bila memang sudah menemukan lokasi sesuai segmen, Anda bisa melakukan penghitungan modal usaha.
sumber: kontan.co.id, ciputraentrepreneurship.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar