Dengan modal usaha kurang dari Rp 100 juta, usaha membuat mini bioskop
tiga dimensi (3D) mampu balik modal kurang dari setahun. Maklum, usaha
ini menjanjikan keuntungan hingga 75%. Kuncinya adalah strategi yang
tepat.
Makin hari, makin banyak orang menyukai film berteknologi tiga dimensi
(3D). Maklumlah, kualitas gambar yang makin realistis tentu membuat
lebih nyaman menikmati tontonan mutakhir ini. Bahkan, bukan hanya orang
dewasa, sensasi tayangan berefek 3D juga digandrungi anak anak yang hobi
menyaksikan film animasi.
Nah, animo masyarakat terhadap teknologi ini sebenarnya sudah terlihat
dari larisnya penjualan televisi layar lebar yang dilengkapi fitur 3D.
Hanya saja, harga perangkat televisi dengan fitur ini masih terbilang
mahal, sehingga tidak dapat dijangkau semua kalangan.
Bioskop yang menayangkan film 3D juga masih terbatas di kota-kota besar
dengan lokasi yang tertentu, seperti bioskop dan arena rekreasi. Kondisi
ini memunculkan peluang bisnis. Kebutuhan yang besar tapi ketersediaan
terbatas membuat beberapa pengusaha melirik kota kecil sebagai sasaran.
Lihat saja, belakangan ini muncul bioskop mini atau studio mini 3D di
berbagai kota. Kebanyakan pemain bisnis ini memang menyasar pasar yang
jauh dari kota besar. Sebab, selain persaingan relatif lebih longgar,
biasanya kota kecil tidak dimasuki jaringan bioskop raksasa. Tentu saja,
harga tiket studio mini ini lebih ramah.
Di daerah kelas kecamatan dan kabupaten, usaha ini cocok potensial
dikembangkan. Selain memberikan hiburan keluarga dan anak, bioskop mini
3D juga bertujuan memperkenalkan masyarakat dengan hiburan keluarga
berteknologi 3D dengan harga lebih terjangkau.
Pemilik bioskop 3D di Jombang, Jawa Timur, Wahyu Wardana, bilang,
kebutuhan masyarakat kota berkembang akan hiburan cukup tinggi. Tidak
heran, peminat studio mini 3D miliknya cukup banyak. Kebanyakan
pelanggannya adalah murid sekolah dan keluarga.
Wahyu mengaku sangat menikmati bisnis studio 3D ini. Alasannya, selain
usahanya mudah dijalankan dan tidak memerlukan keahlian khusus, laba
yang diperolehnya juga cukup tebal. Keuntungan bersih yang diperoleh
bahkan bisa mencapai 75% dari omzet. Asal tahu saja, ia meraup omzet
Rp 48 juta per bulan. “Bisnis ini juga lebih aman karena tidak banyak risiko,” tuturnya.
Sukses berbisnis studio mini 3D juga dirasakan Muhammad Miftahun Huda,
pemilik Movie 3D di Semarang, Jawa Tengah. Dalam sebulan, remaja 19
tahun ini mampu meraup untung Rp 15 juta–Rp 20 juta. Dengan investasi
senilai Rp 70 juta hingga Rp 80 juta, modal awal pemilik usaha dapat
kembali tidak sampai satu tahun.
Meski masih terbilang baru dalam menjalankan bisnis ini, sudah banyak
tawaran kerjasama permodalan yang diterima oleh Miftahun. “Hampir tiap
hari, ada proposal kerjasama yang saya terima. Ini membuktikan bisnis
studio mini memang menarik,” paparnya.
Segmen Anak Sekolah
Jika Anda tertarik menjalankan bisnis ini, hal pertama yang harus
ditentukan adalah segmen pasar. Berdasarkan pengalaman para pelaku
usaha, pasar anak usia sekolah sangat potensial untuk digarap (lihat
boks: Menawarkan Film 3D
Edukasi). Dengan membidik segmen ini, pelaku usaha bisa memperoleh pelanggan
berlipat-lipat.
Meski tidak sebesar pasar anak sekolahan, penonton dari segmen keluarga
juga bisa digarap. Untuk membidik segmen ini, penyedia tayangan harus
pintar memilih lokasi. Tempat-tempat keramaian seperti objek wisata atau
alun-alun kota merupakan contoh tempat yang cukup strategis.
Biasanya, banyak orangtua yang membawa anaknya yang belum masuk sekolah
untuk menyaksikan tayangan 3D. Strategi seperti ini cocok diterapkan di
daerah yang jauh dari kota besar. Sebab, di kota berkembang, lokasi
keramaiannya biasanya berhimpun di satu atau dua titik saja. Jika ingin
meniru strategi ini, penyedia tontonan harus menyiapkan tenda sebagai
studio.
Selain menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah, studio Miftahun di
kawasan Jalan Sirojudin, Semarang, menyediakan studio untuk tayangan tak
berjadwal. Penonton lebih bebas untuk menentukan jam dan film yang
diputar. Untuk setiap satu film, ia mematok tarif Rp 50.000 per empat
orang. Jika melebihi kuota, penonton tambahan tinggal membayar Rp 10.000
per orang.
Miftahun menerapkan strategi ini lantaran harus bersaing dengan jaringan
bioskop raksasa seperti 21 Cineplex. Meski begitu, pendapatan yang
diraupnya tergolong lumayan. Dalam satu hari, studionya dapat memutar
lima film dengan rata-rata lima hingga 10 kepala.
Bioskop 3D memang memiliki segmen penonton atau pasar yang terbatas.
Untuk itu sebelum melakukan investasi, sebaiknya Anda melakukan survei
area usaha. Tujuannya untuk menentukan kecocokan lokasi dengan segmen
yang dituju. Bila memang sudah menemukan lokasi sesuai segmen, Anda bisa
melakukan penghitungan modal usaha.
sumber: kontan.co.id, ciputraentrepreneurship.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar