Udah nonton di rumah dua kali, masih nonton bareng lagi di sekolah (memanfaatkan fasilitas head projector di kelas, hehehe). Gimana ga, dengan efek 3D dan cerita yang mendebarkan, film Journey to The Center of The Earth ga cukup ditonton sekali. Walaupun saya menontonnya ga di CINEMA XXI Senayan yang pake kacamata 3D, namun jika layar kita perhatikan secara fokus efek 3D akan dapat dirasakan. Misalnya saja pada adegan di kereta yang digunakan di pertambangan, jika betul-betul memperhatikan layar dan fokus, dijamin bakal terasa efek 3D nya walaupun cuman sedikit-sedikit.
Ini ada artikel yang ngebahas tentang penerapan 3D effect (bagus nih, penerapan fisika)pada film-film layar lebar (disalin dari http://gambar3dimensi.wordpress.com/ dengan sedikit editing)
Penampilan kinerja Dolby 3D yg dipakai pada film ‘Journey to The Center of The Earth - 3D’ di gedung bioskop Plaza Senayan XXI sangatlah menyakinkan. Gambar 3D yg stabil, detil, jernih dan tidak membuat sakit kepala atau pusing. Ngga’ ada salahnya artikel kali ini kita mengupas cara kerja Dolby 3D.
Sebelum lanjut membahas cara kerja Dolby 3D ada
baiknya meninjau perkembangan beberapa teknik menampilkan film 3D di
gedung bioskop.
Teknik yg paling
awal dan sederhana ini cukup sukses diawal-awal zaman keemasan film 3D.
Hanya dng kaca mata merah-sian (biru muda), sdh dpt memfilter gambar
kiri dan kanan pada layar putih di gedung bioskop. Teknik ini juga tidak
memerlukan projektor khusus, cukup hanya satu projektor film (celuloid)
ataupun Digital Cinema sudah bisa memainkan film 3D. Hal ini
dimungkinkan karena materi film lah yg berformat anaglyph. Disamping
kemudahannya, memang ada kekurangannya yaitu warna film menjadi
terdistorsi khususnya pada gambar disparity yaitu gambar rangkap 2 yg
terpisah krn adanya beda paralax akan berwarna merah dan cyan
berdampingan. Warna yg timpang tsb membuat penonton tidak cukup nyaman
untuk menonton film panjang, dimana mata kiri selalu melihat dng kaca
mata filter merah dan kanan dng kaca mata sian. Oleh sebab itu, pada
film spt ‘Spykid 3D’ ada jeda adegan non-3D kurang lebih setalah 15menit
pertunjukkan 3D agar, mata penonton bisa istirahat.
Polarisazed (polarisasi)
Tenik
ini muncul di awal thn 50an, dng prisip bahwa sinar bisa diatur
rambatannya dng sudut kutub tertentu. Sehingga dua gambar stereoskopis
bisa difilter dng kutub yg berbeda. Umumnya mata kiri dng kutub 0
derajat dan kanan 90 derajat (ada juga yg -45 dan 45). Gambar kiri dan
kanan bertumpang tindih pada layar akan disaring dng sempurna sesuai
sudut kutub pada kacamata yg dikenakan penonton. (Pelajarannya Mami Ocha ni, hehehe)Teknik
polarisasi ini membuat penonton merasa nyaman krn film disajikan dalam
tata warna penuh. Adegan-adegan film 3D menjadi lebih nyata. Hanya saja
teknik ini merepotkan atau memerlukan biaya tambahan bagi pihak bioskop.
Teknik mengharuskan memakai dua projetor kembar (baik yg Digital Cinema
ataupun analog -film celuloid) dan layarnya harus khusus pula, yaitu
silver screen. Ini dimaksud agar sinar terpolarisasi tsb sampai sempurna
ke kacamata penonton. Repotnya lagi, setelah bioskop dibuat untuk 3D
selanjutnya tdak cocok lagi untuk memutar film biasa (2D), krn layar
perak tadi menjadi tidak nyaman. Biasanya teknik polarisasi ini sering
dipakai pada gedung bioskop yg hanya khusus memutar film 3D saja.
Film-film dokumenter atau hiburan pendek bisa anda saksikan Biokop 4D di
Ancol atau The Jungle (Bogor). Tentu teknik ini akan menambah biaya yg
besar pada gedung bioskop biasa untuk film-film panjang. Apalagi film 2D
masih lebih dominan daripada 3D. Sehingga investasi di bioskop film
biasa menjadi mubazir.
Liquid Crystal Display (LCD)
ShutterTeknik
ini lebih cocok hanya untuk Digital Cinema. Dan tidak perlu layar perak
atau dua projector selama pemutaran film 3D. Hal ini memungkinkan
karena gambar kiri dan kanan ditampilkan tidak secara bersamaan spt
teknik polarisasi diatas, melainkan bergantian sangat cepat 144
frame/detik. Agar mata kiri hanya menangkap gambar informasi kiri,
diperlukan kacamata LCD shutter yg akan berkedip bergantian untk
memblokir mata kanan dan kiri bergantian sehingga serempak dng tampilan
gambar kiri-kanan di layar bioskop. Hasilnya cukup menyakinkan, film 3D
mampu tampil dng warna penuh seperti halnya teknik polarisasi. Hambatan
dari teknik ini adalah biaya kacamata yg menjadi mahal dan memerlukan
rangkain elektronik yg aktif (memerlukan bettery, kabel sycn atau freq
radio) pada setiap kacamata yg dipakai penonton. Dan kekurangan lainnya
yg sering terjadi, teknik ini tidak handal untuk gedung bioskop dng
kapasitas lebih dari 200 orang. Selain biaya mahal juga tidak bisa
menjamin semua kaca mata tidak kehabisan battery atau kedipannya tidak
sinkron dng tampilan gambar di layar. Yg jelas kaca mata LCD tidak
seringan dan semurah anaglyph atau polarisasi di atas.
Dolby 3D
Dolby 3D memakai teknik
‘wavelenght triplet‘ yg asalnya dikembangkan oleh perusahaan Infitec
dari Jerman. Di dalam projector Digital Cinema, umumnya memakai DLP dng
tiga warna primer, yaitu merah-hijau-biru atau sering disingkat dng RGB
(Red, Green, Blue). Dengan Dolby 3D, ketiga panjang gelombang (pada
masing2 warna dasar) dibagi lagi menjadi dua. Sehingga terdapat warna
merah utama dan merah dng panjang gelombang sedikit bergeser di bawah
merah yg utama. Begitu juga dng yg biru dan hijau memiliki ‘kembarannya’
dng panjang gelombang sedikit dibawah. (lihat gambar)

Nah, warna RGB yg utama akan menampilkan gambar-kanan sedangkan RGB yg sedikit dibawah panjang gelombang RGB utama akan menampilkan gambar kiri. Selanjutnya setelah diproyeksi ke layar putih yg pada umumnya di gedung2 bioskop, penonton akan memakai kacamata khusus. Dimana filter ini kacamata yg kiri sesuai dng panjang gelombangnya.
Karena Dobly 3D memakai satu projektor saja, maka frame gambar kiri dan kanan ditampil bergantian. Jangan kuatir akan terlihat kedipan selama menonton film 3D, karena pergantian frame (frame rate) sangat cepat yaitu 144 frame/detik atau masing gambar kiri atau kanan mendapat 72 frame/detik (bandingkan dng projector celuloid - 24 frame/detik). Dan urutan gambar kiri dan kanan yg sangat tinggi itu hanya terjadi di sisi projector saja, tidak pada kacamata penonton. Ingat, kacamata penonton tetap bersifat pasif.
Agar saat gambar kiri menghasilkan panjang
gelombang yg sedikit begeser, maka projector memerlukan modifikasi kecil
dng menambahkan filter berbentuk cakram. Cakram ini berputar persis di
depan lampu projektor sebelum ‘image device’- DLP. Cakram terdiri dari
dua filter warna yg akan mempengaruhi panjang gelombang cahaya putih
dari lampu projector. Rotasi filter cakram akan diselaraskan dng
tampilan gambar kiri-kanan yg bergantian di DLP. (Lihat gambar)

Dengan teknik Dolby 3D, pemilik bioskop (yg sdh ber-Digital Cinema, tentunya), tidak perlu mengubah layar atau menambah projector hanya sekedar untuk memutar film 3D saja. Bila ingin memutar kembali film 2D, cukup melepas atau menggeser (secara elektronik) filter carkram tsb dari lampu projektor.
Jika
kita amati cara kerja dolby 3D:- mirip gabungan antara teknik anaglyph
(yg memanfaatkan spetrum warna) dan teknik LCD shutter (yg ingin
memanfaatkan satu projector saja). Namun berbeda dng anaglyph, disparity
image yaitu gambar rangkap 2 yg terpisah krn adanya beda paralax akan
berwarna merah dan cyan berdampingan, sehingga dng anaglyph membuat
warna film selama pertunjukan 3D menjadi terdistorsi. Hal ini tidak
terjadi di Dolby 3D, krn masing2 mata tetap mendapatkan spektrum warna
yg utuh & lengkap.- prosess pengiriman gambar stereoskopis ke
penonton terjadi pada proses akhir presentasi film, yaitu di projektor
gedung bioskop. Artinya, film/gambar 3D yg memuat informasi stereoskopik
(kiri & kanan) apasaja dpt ditampil dng Dolby 3D. Ini juga
meringankan si pembuat film 3D yg tidak perlu memikirkan teknik akhir
penyajian tiga dimensi pada penonton.
Kaca mata Dolby 3D
Kacamata ini memang tidak sesederhana bila dibandingkan dng kacamata anaglyph ataupun kacamata polarisasi. Dilapisi dng beberapa lapisan (coating) dng teknik yg sangat presisi dan agar tidak terjadi bocor dan memfilter sesuai panjang gelombang cahaya yg diproduksi oleh projektor. Bila dilihat sepintas, coating-nya mirip lensa kamera (emas keperakan), dan tidak segelap pada kacamata hitam (sun glasses).
Kaca mata Dolby 3D
Kacamata ini memang tidak sesederhana bila dibandingkan dng kacamata anaglyph ataupun kacamata polarisasi. Dilapisi dng beberapa lapisan (coating) dng teknik yg sangat presisi dan agar tidak terjadi bocor dan memfilter sesuai panjang gelombang cahaya yg diproduksi oleh projektor. Bila dilihat sepintas, coating-nya mirip lensa kamera (emas keperakan), dan tidak segelap pada kacamata hitam (sun glasses).
Kita amati ketika memakai kacamata dolby 3D, cobalah memejamkan mata kanan maka mata kiri akan melihat gambar (kiri) yg sedikit lebih pucat dan berwarna dingin. Sebaliknya bila kita memejamkan mata kiri, maka gambar kanan lebih terlihat saturated dan berwarna lebih hangat. Namum perbedaan tsb sangat halus. Boleh dikatakan hampir tidak terasa pada beberapa orang. Tapi hasil penyaringan kacamata sangat mengagumkan. Ketika saya menonton ‘Journey to The Center of The Earth - 3D (….hingga 2x lho) baik pada adegan gelap dalam gua atau cerah-kontras pada adegan siang hari, tidak pernah saya jumpai ghosting image bahkan saat gambar memiliki area yg gelap dan terang sangat mencolok sekalipun. Juga pada saat lampu ruangan bioskop dinyalakan pada akhir film (ending credit title - biasanya penonton sdh berjalan menuju pintu keluar), kacamata ini masih bisa memfilter dng baik dan sensasi 3D tetap tampil sempurna dan stabil tanpa bayangan bocor antara gambar kiri dan kanan, tulisan nama-nama aktor, aktris dan crew film masih tampil melayang mendekati penonton. ..hmm hal yg sulit dicapai pada sistem anaglyph.
- referensi cara kerja Dolby 3D dari SINI
- untuk infromasi lebih jauh tentang Dolby 3D dpt dilihat di SINI
Memang Kacamata Dolby 3D lebih mahal (harganya sekitar $ 40) dari pada kaca mata anaglyph ataupun polarized(sekitar $1 hingga $5) tetapi tidak semahal LCD shutter glasses (lebih dari $ 100), krn kaca mata Dolby 3D tetap pasif alias tidak ada rangkaian elektroniknya. Namun masih mahal untuk diberikan secara cuma-cuma kepada penonton usai pertunjukan. Makanya gedung biokop dan kacamata dilengkapi sensor anti-curi (he he he), alaram di pintu akan berbunyi bila kacamata dibawa keluar dari ruang theater bahkan untuk ke WC sekalipun.

Bila Dolby 3D menjadi umum dikemudian hari,
diharapkan kacamata ini dapat dibeli bebas. Penonton bisa memiliki dan
membawa sendiri kacamatanya ke gedung bioskop bila ingin menonton film
3D. Ya, seperti kita membawa kacamata renang sendiri bila mau berenang
ke kolam renang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar