Ketika
seseorang mulai berbisnis, tentu banyak ketakutan dan kendala yang
dihadapi. Takut kehilangan kemapanan sebagai pegawai, yang sudah pasti
terima gaji pada setiap bulan, takut kehilangan fasilitas dari kantor,
hingga takut tidak dapat memenuhi kehidupan keluarga.
“Sebenarnya yang paling membuat orang tidak berdaya adalah mental,” ujar motivator dan wirausahawan Tung Desem Waringin.
Sikap
mental ini sangat terkait erat dengan masa lalu seseorang. Dia
bercerita, ada pegawai negeri yang sebenarnya hendak memulai
berwirausaha, tetapi tidak berani memulainya. Selidik punya selidik,
ayahnya yang pegawai pernah berwirausaha tetapi ditipu mitra bisnisnya
dan akhirnya bangkrut. Sejak saat itu ayahnya mengatakan bahwa
berwirausaha itu penuh risiko dan tidak menyenangkan, lebih baik menjadi
pegawai karena akan menerima gaji tetap.
“Apa yang dia dengar,
dia lihat dan dia rasakan sangat melekat pada benaknya. Sikap mental ini
selalu menghambat dia untuk melangkah menjadi wirausahawan.
Bagaimanapun dia mengikuti pelatihan, tidak akan membuatnya menjadi
berubah menjadi wirausahawan sebelum hambatan mental itu dibongkar,”
kata Tung lagi.
Bagaimana membongkar sikap mental ini ? Perubahan
memang
memerlukan proses. Proses ini berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. “Tetapi, perubahan itu akan terjadi jika ada alasan yang
sangat kuat,” kata Tung.
Berbincang Dengan Diri Sendiri
Perbincangan
dengan diri sendiri (self talk) juga berpengaruh terhadap sikap mental
seseorang. Jika salah mengarahkan, akan menjadi negatif dan malahan
membuat tembok halangan menjadi lebih tebal lagi.
Pertanyaan
seperti “Bagaimana kalau berusaha lalu bangkrut ?” itu merupakan
pertanyaan yang biasa diajukan ketika seseorang mau berwirausaha.
Pertanyaan ini dapat diubah menjadi “Apa ruginya jika tidak memulai
bisnis dari sekarang ?” atau “Apa untungnya jika memulai bisnis dari
sekarang ?” “Itu bisa dijawab, kalau memulai dari sekarang, jika bisnis
gagal maka masih ada waktu untuk memperbaikinya, keuntungannya, jika
bisnis berhasil, kesempatan untuk menikmatinya juga lebih panjang,” kata
Tung yang juga pernah menutup beberapa bisnisnya karena prospeknya
tidak baik.
Dia juga menekankan, sesama wirausahawan sebaiknya
tidak menganggap wirausaha lain sebagai saingan yang harus dijegal.
Sebaliknya, wirausaha lain harus dirangkul dan diajak bekerja sama untuk
bersama-sama maju.
“Kesalahan yang sering saya amati adalah para
wirausahawan ingin cepat mendapatkan untung dalam jangka pendek.
Padahal, berusaha itu merupakan proses dan harus dilihat dalam jangka
panjang. Orang yang sukses berbisnis mampu melihat keuntungan jangka
panjang ketimbang jangka pendek,” kata Tung lagi. (*kompas.com)
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/20462-mulai-berwirausaha-dengan-sikap-mental-berbeda-.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar